Cempedak Goreng Spesial Cik Lina: Gorengan Legendaris Pecinan Jakarta

0
38
cempedak goreng
cempedak goreng

Sebagai kawasan pecinan terbesar di Jakarta, Glodok merupakan saksi bisu dari kekayaan budaya dan sejarah setelah pendudukan warga etnis Tionghoa sejak abad ke-18. Penamaan Glodok berasal dari suara pancuran air dari bangunan kecil di tengah-tengah halaman di Balai Kota yang suaranya “grojok… grojok”. Lalu, penduduk sekitar melafalkannya menjadi “glodok”.

Bila bicara soal makan-makan di Jakarta, Glodok adalah salah satu kawasan yang menjadi favorit pecinta kuliner. Tak terkecuali teman saya yang muslim. Saya sempet bertanya-tanya makanan apa yang menjadi incarannya setiap ia ke Glodok, apalagi setahu saya kuliner di sana rata-rata tidak halal. Ternyata, favoritnya adalah cempedak goreng! Saya bahkan tidak pernah tahu bahwa di Glodok ada gorengan yang tersohor, karena biasanya saya ke Glodok untuk makan nasi campur.

Pada hari minggu pagi, saya mengikuti tur kuliner rute Glodok dengan 2 peserta lainnya dan seorang pemandu wisata. Walaupun Glodok tidak begitu jauh dari rumah saya, sebetulnya saya tidak begitu sering ke sana. Jadi, mungkin saja masih banyak tempat menarik yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya.

Terus terang, cempedak goreng tidak muncul dalam pikiran saya sewaktu pendaftaran tur ini.

Kulineran di area Glodok berarti harus siap melewati jalan-jalan sempit dan berliku, walaupun kini arus lalu-lalangnya tidak begitu padat dibandingkan dengan tahun 80 hingga 90an ketika saya masih kecil. Namun, tetap saja memakai pakaian dan alas kaki yang nyaman pasti sudah wajib hukumnya.

Gang Gloria adalah gang utama di kawasan Glodok yang terkenal dengan aneka jajanan yang enak-enak nan terjangkau. Maka setelah mencapai penghujung gang, saya kira rutenya sampai di situ saja. Ternyata, ada 1 gang lagi yang akan kami kunjungi, Gang Kalimati namanya.

Posisi Gang Kalimati terpisah dari Gang Gloria, yang harus ditempuh sekitar 300 meter dengan berjalan kaki. Bagaikan domba-domba yang digiring seekor anjing Collie, kami serta-merta mengikuti sang pemandu yang hafal betul dengan setiap belokan jalan yang nampak sulit diingat. Satu-satunya yang saya ingat adalah setelah itu ada gedung sekolah katolik Strada Ricci dan Gereja Santa Maria de Fatima, gereja yang arsitekturnya unik seperti klenteng, di sebelah kanan saya. Kemudian, sang pemandu berjalan lurus mengarahkan kami ke ujung jalan memasuki sebuah gang sempit dan gelap.

 “Ini Gang Kalimati, pusat kuliner favorit selain Gang Gloria!” serunya.

Bila Gang Gloria sudah saya anggap sempit, ternyata Gang Kalimati sedikit lebih sempit lagi. Kanopi antara barisan ruko sebelah kiri dan kanan hampir bersentuhan sehingga sinar matahari tidak punya cukup ruang untuk menyinari jalanan. Hal ini membuat Gang Kalimati terlihat gelap dari kejauhan. Satu keuntungan bagi kami adalah tidak perlu kuatir dengan teriknya sinar matahari selama perjalanan.

suasana gang kalimata

Pilihan kuliner di Gang Kalimati juga tak kalah serunya dengan aneka pilihan yang membuat lidah bergoyang, mulai dari laksa, kuotie, mie Belitung, pia Beijing, makanan vegetarian dan banyak lagi. Ketika kami berjalan agak cepat, saya tak sengaja menoleh ke kanan, di mana terdapat beberapa orang menunggu pesanannya dan seorang perempuan muda yang sibuk memasak gorengan. Sekilas memang seperti gorengan abang-abang biasa, namun tulisan pada spanduk yang menempel pada dinding di belakangnya menarik perhatian saya.

Cempedak Goreng Spesial Cik Lina!

Saya yakin di situlah tempat cempedak goreng favorit teman saya, karena tidak ada pedagang lain di kawasan Glodok yang menjualnya selain Cempedak Goreng Spesial Cik Lina. Saya jadi teringat dengan perkataannya waktu lalu bahwa lokasi rukonya termasuk yang sulit dicari. Bila tidak menelusuri pelan-pelan dengan teliti, kemungkinan besar akan kelewatan. Apalagi ukuran rukonya hanya sepetak kecil saja dengan dinding kuning pucat yang nampak agak kusam dan tidak menarik perhatian.

Awalnya, usaha cempedak goreng ini dimulai oleh ibunya Cik Lina pada tahun 90an, yang kemudian diteruskan oleh Cik Lina hingga kini. Tak terasa, sudah lebih dari 2 dekade cempedak goreng ini memikat para pelanggannya yang datang dari berbagai wilayah di Jakarta, bahkan sampai dari kota seperti Tangerang, Depok, Bekasi, dan lain-lain.

Terus terang, saya sudah agak kenyang dengan camilan-camilan lain sebelumnya dan sudah lama sekali tidak makan gorengan karena tenggorokan saya sulit diajak kompromi. Tapi rugi juga kalau kesempatan ini dilewatkan begitu, apalagi tidak mudah menemukan cempedak goreng di Jakarta. Akhirnya, saya beli 1 porsi untuk sharing bersama kedua anggota tur lainnya.

Untuk mendapatkan cempedak goreng kepunyaan Cik Lina, memang perlu ekstra sabar karena harus menunggu prosesnya dari awal. Bila kamu melihat Cik Lina menggoreng tanpa henti atau melihat gorengan “nganggur” di tampah bambu, berarti semuanya sudah menjadi milik pelanggan lain yang tinggal ambil saja. Maklum, sudah banyak dari mereka yang memesan duluan melalui whatsapp Cik Lina supaya tidak kehabisan. Ketika sedang sangat ramai, ia mampu menjual 300 porsi cempedak goreng per hari! Bila 1 cempedak menghasilkan 6 sampai 7 porsi, berarti diperlukan sekitar 42 buah cempedak untuk memenuhi permintaan pelanggannya.

Sebetulnya sih cempedaknya hanya digoreng tepung biasa. Namun, kunci kelezatannya adalah bahan dasar buah cempedak pilihan yang betul-betul matang, tekstur empuk, berwarna oranye dan rasanya manis. Faktor lain yang membuat cempedak gorengnya berbeda dari tempat lain adalah rahasia dapur adonan campuran tepungnya dan teknik menggorengnya. Disamping itu, minyak gorengnya sering diganti baru sehingga tetap jernih.

Cempedak goreng Cik Lina dibanderol Rp. 15.000 per porsinya dengan ukuran lebih besar dari gorengan rata-rata di luar sana. Cara makannya adalah dengan menggunakan gula aren cair supaya lebih manis dan gurih. Tekstur gula arennya encer karena asli tanpa ada penambahan tepung lagi. Rasa cempedak goreng ini saya akui juara karena cempedaknya memang sudah manis dan garing, apalagi dilapisi tepung yang membuatnya tambah renyah. Tanpa auran gula aren pun sudah enak banget rasanya. Pantas saja banyak pelanggan setianya karena kualitasnya yang terus terjaga.

Sebetulnya kurang puas juga kalau makan 1 porsi untuk bertiga. Namun, apa boleh buat bila perut tak kuat menampung lebih banyak lagi? Beralamatkan di Jl. Pancoran 6 No. 6A, Jakarta Barat, setidaknya saya sekarang sudah tahu letak rukonya. Walaupun bukan berarti nantinya saya bisa dengan mudah menemukannya tanpa tersesat terlebih dahulu. Atau saya bisa memesannya secara online bila lagi “ngidam”.

Nah, sudah saatnya kamu mencicipi kelezatan cempedak goreng terbaik di Ibu Kota. Siapa tahu kamu jadi “korban” berikutnya, ketagihan dan ingin terus kembali lagi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here