Home Menu Daging-Dagingan Warung Makan Bu Ugi : The Legend Yang Tidak Lekang Oleh Waktu

Warung Makan Bu Ugi : The Legend Yang Tidak Lekang Oleh Waktu

0
83

Setiap saya dan keluarga pergi ke Tawangmangu, kami akan mampir ke warung yang satu ini. Cuaca Tawangmangu yang tidak dapat diprediksi ditambah suhu udaranya yang keterlaluan dinginnya membuat kami selalu mengincar makanan hangat.

Banyak warung makan di pinggir jalan yang kian bertambah dari tahun ke tahun tidak juga membuat hati kami berpaling. Lantas darimana kami tau Warung Bu Ugi?

Mantan pacar saya yang saat ini menjadi suami adalah seorang pemandu wisata asing. Ia kerap membawa tamunya berwisata ke Tawangmangu dan menginap di Telaga Sarangan. Pada saat itu ia sering mengalami kesulitan untuk mendapatkan tempat makan yang sesuai dengan selera tamu asing.

Menuju ke Tawangmangu dengan tanjakan dan turunan yang berliku-liku membuat tenaga untuk menyetir mobil kian menjadi ekstra keras. Lapar pun tidak tertahan lagi hingga sampailah di suatu jalan menanjak dengan warung makan di pinggir jalan yang terkesan estetik.

Benar-benar tepat di tanjakan dan melatih kesabaran untuk mencari posisi parkir yang tepat tidak mengurungkan niat suami saya untuk mencoba warung makan tersebut. Tempatnya bersih dan nyaman membuat tamu asing juga tidak ragu untuk turun menyicipi.

Dari pengalaman suami saya itulah saya mengenal warung yang ternyata bernama Warung Bu Ugi. Kerapnya kami mampir kesini membuat kami menelusuri tahun demi tahun perjalanan warung tersebut. Bu Ugi sendiri sudah sangat renta namun semangatnya untuk bangun dini hari mengelola bisnis kulinernya patut diacungi jempol.

Di tahun 2019 sebelum pandemi, saya sekeluarga kembali kesana dan ternyata warung bu Ugi telah beralih tangan ke anak pertamanya yang bernama Ugi. Ternyata nama warung ini diambil dari nama anak pertama beliau.

Jauh sebelum ibunya meninggal, pak Ugi ternyata sudah ikut membantu. Itulah sebabnya warung makan tersebut tertata dengan sangat baik. Memang yang muda selalu mampu memberi nuansa baru dalam perkembangan bisnis dan inilah yang terjadi.

Warung makan bu Ugi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan warung makan umumnya. Mereka menjual nasi pecel, sup iga, sup buntut, hingga nasi rames. Hanya saja yang menjadi favorit kami adalah sup iga. Bayangkan saja ketika suhu dingin di daerah Tawangmangu melanda, sup iga benar-benar teman penghangat yang tepat.

Kondisi warung makan bu Ugi (Sumber Facebook Pribadi)

Pernah ketika saya tiba di Tawangmangu menjelang maghrib, cuacanya benar-benar dingin. Dengan menikmati sup Iga bu Ugi, energi saya kembali dan rasa hangat langsung menjalar ke tubuh saya sehingga saya pun menjadi kembali semangat untuk melanjutkan perjalanan ke Telaga Sarangan.

Bahkan para staf termasuk pak Ugi sendiri pun merupakan sosok-sosok yang ramah. Begitu banyak cerita dari beliau yang bisa ambil pelajarannya tentang bagaimana mengelola bisnis walaupun itu membosankan.

Jika saya tiba di Tawangmangu pada pagi hari, maka nasi pecel akan menjadi pilihan. Makan siang pun kita dapat menikmati nasi rames. Menu minumannya adalah standar seperti teh hangat, jeruk hangat, hingga air putih. Tentu semuanya dengan harga yang bersahabat.

Berhubung makanan favorit saya adalah sup iga, maka kali ini saya akan cenderung lebih banyak membahas mengenai sup tersebut. Seperti sup racikan ibu, sup iga bu Ugi juga menghadirkan wortel dan kentang namun dengan irisan besar. Rasa rempahnya sangat khas serta kaldu daging sapi yang mantap di lidah menjadi ciri khas.

Kaldu yang kental dan mantap itu berasal dari rebusan tulang daging sapi yang mana proses merebusnya saja memakan waktu lebih dari dua jam.

Benar-benar mantap. Ukuran iga nya pun tidak main-main. Apalagi tekstur iganya cukup lembut hingga tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk memisahkannya dari tulang.

Sup Iga Bu Ugi (Dok. Pribadi)

Bagaimana? Penasaran ingin mencobanya? Untuk membuktikan betapa legendarisnya warung makan ini, kita dapat melihatnya dari sertifikat serta liputan media yang berhasil diraih oleh bu Ugi. Dari situ juga saya memahami bahwa waktu ternyata bisa membawa sebuah usaha menjadi semakin matang dan tak lekang oleh waktu.

Sertifikat dan liputan warung Bu Ugi (Dok. Pribadi)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Open chat