Sebetulnya tujuan awal saya ke Gandaria City Mall, Jakarta Selatan, hanyalah untuk potong rambut ke salon yang letaknya dekat parkiran mobil. Namun, ketika saya menaiki tangga hendak ke pangkalan taksi melalui lantai LG, tiba-tiba saya menemukan Take Barli, konter camilan baru yang belum pernah saya liat sebelumnya.

Yang membuat saya melirik adalah terdapat sebuah alat berbentuk batangan kayu atau rolling pin yang diselimuti adonan. Seorang staf yang sedang memanggang adonan tiba-tiba menyapa saya, mungkin karena melihat gerak-gerik saya yang jelas-jelas menunjukkan rasa penasaran.

“Makanan apa itu, pak?” tanya saya.

“Kurtos, kak.” jawabnya.

pembuatan kurtos

Masih belum paham juga, akhirnya saya menghampirinya untuk bertanya lebih lanjut. Kurtos adalah kue dari Hungaria yang bentuknya seperti potongan pipa yang bolong di bagian tengahnya. Nama aslinya adalah kürtőskalács, di mana kurtos berasal dari kurto berarti cerobong asap dalam bahasa Hungaria. Maka, kurtos dikenal dengan nama chimney cake dalam bahasa Inggris.

Beberapa tahun silam saya sebetulnya pernah liburan ke ibu kota negeri asal kurtos ini, Budapest, dan sempat makan roti di sana. Tapi kok saya tidak pernah dengar tentang kurtos ya, dan lucunya malah nemu di ibu kota negeri sendiri.

Walaupun Take Barli menjual kue Hongaria, dekor konternya yang minimalis bernuansa kayu coklat muda tidak ada kesan Eropa sama sekali, bahkan tercantum tulisan Jepang pada logonya. Pantas saja tertulis Asian Kurtos pada paper bag-nya. Ternyata kue Hungaria ini sudah diadaptasi ke gaya Jepang.

counter

Take Barli menawarkan kurtos versi original (tanpa toping) yang dibanderol Rp. 18.000 dan dengan tambahan toping yang bisa dipilih antara cream cheese, green tea, Nutella, Ovomaltine, peanut dan coffee yang dibanderol Rp 20.000. Kurtos original dan yang dengan toping cream cheese adalah favoritnya.

Sementara menunggu, saya mengamati proses pembuatannya yang cukup menarik. Pertama-tama, adonan dibentuk menjadi tali panjang yang dililitkan ke rolling pin kayu, diolesi mentega dan kemudian dimasukkan ke oven hingga matang. Letak ovennya tidak begitu menyolok dari kejauhan karena posisinya sejajar dengan meja kasir. Namun bila diperhatikan lagi, pintu ovennya adalah pintu atas yang tembus pandang sehingga saya bisa melihat adonan kurtosnya berputar hingga matang kecoklatan.

Berhubung saya ingin makan di tempat, maka cream cheese-nya diolesi pada bagian dalamnya. Cara makannya pun unik, yakni merobek bagian pinggir atas kue dengan mengikuti garis-garis ulir yang ada sehingga nantinya berbentuk spiral seperti per.

Dengan berpatokan pada kata chimney cake, maka saya mengira kurtos adalah kue bertekstur  seperti sponge cake yang agak kering. Padahal setelah dicoba, lebih cocok disebut roti dalam bahasa Indonesia. Roti ini paling nikmat disantap hangat-hangat ketika baru keluar dari oven. Apalagi adonannya yang tipis membuat permukaan roti yang dibalur gula rasa cinnamon atau kayu manisini semakin garing. Toping cream cheese-nya terasa creamy dengan asin keju yang semilir-semilir untuk menyelaraskan dengan rasa manis dari rotinya, sehingga tidak terkesan balapan. Baik yang original maupun dengan toping cream cheese, saya suka dua-duanya.

cream cheese kurtos & royal milk tea

Pastinya, kamu tidak akan menemukan kurtos dengan variasi seperti di Take Barli bila belinya di Hungaria karena di sana toping dibubuhkan di permukaan, misalnya dengan kacang almond, oatmeal, chocolate chip dan biji bunga matahari.

Selain kurtos, Take Barli juga menawarkan milk tea dengan 4 varian, yaitu royal milk tea, shiro coffee, kuro coffee dan milk tea ocha yang dibanderol Rp. 25.000 per 250 ml. Dari semuanya, royal milk tea adalah yang paling direkomendasikan dengan bahan utama Assam tea. Dibandingkan dengan black tea, green tea atau oolong tea yang sudah sering digunakan, Assam tea membuat rasa milk tea lebih sensasional karena secara alamiah Assam tea mempunyai aroma lebih kuat dengan rasa sedikit asam dan malty, alias rasa yang mengandung unsur biji-bijian serta kacang-kacangan. Rasa milk tea seperti royal milk tea relatif sulit didapat di tempat lain yang membuat saya suatu hari akan kangen dan ingin merasakannya kembali.

royal milk tea dispenser

Yang namanya camilan bergaya Jepang biasanya identik dengan rasa green tea. Maka, pada kunjungan berikutnya saya mencoba kurtos dengan toping green tea dan minumnya milk tea ocha. Terus terang menurut saya rasa green tea di Take Barli didominasi rasa manis yang cukup intens, di mana keaslian rasa bittersweet yang biasa dianut di Negeri Sakura tidak akan didapat.

kurtos green tea

Rasa toping green tea sepertinya tidak banyak berbeda dengan cream cheese, kecuali minus unsur asin keju saja. Dibandingkan dengan royal milk tea yang saya sangat gemari, saya cenderung kecewa dengan milk tea ocha karena terlalu manis sehingga kenikmatan pahit sangrai khas green tea sesungguhnya terpendam sia-sia. Andaikata kadar manisnya dikurangi hingga 60 persen dengan penambahan bubuk matcha pada resepnya, saya rasa akan lebih mantap rasanya. Tentunya ini pendapat pribadi saya ya, yang belum tentu mewakili selera mayoritas karena orang Indonesia pada dasarnya suka manis.

Kesimpulannya, makan kurtos dengan toping green tea lalu minumnya milk tea ocha akan membuat tambah haus karena semuanya serba manis. Sebaiknya keduanya dinikmati secara terpisah dan minumlah air putih atau ocha tawar saja untuk melepaskan dahaga.

milk tea ocha

Sebetulnya, roti dengan rasa cinnamon dapat ditemui dengan mudah di beberapa toko roti. Namun yang namanya kulineran, nilai-nilai tambah lainnya selain kualitas dan rasa perlu ditonjolkan. Faktor historis pada roti jadul Hungaria yang tak banyak orang tahu berpadu dengan gaya Jepang kekinian, bentuk dan cara makan yang unik dapat menimbulkan rasa penasaran untuk mencobanya.

Saya rasa itulah daya tarik Take Barli dengan kurtos versi Asia-nya yang sedang naik daun, padahal konternya baru 4 bulan beroperasi di Gandaria City Mall ketika artikel ini ditulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here