Andam oi andam

Andam oi andam

Andam oi andam oi andam oi

Bukittinggi koto rang agam yo andam oi

Mandaki janjang ampek puluah

(Andam oi – Wisye Pranadewi)

Dulu waktu masih tinggal di kos-kosan sederhana bilangan Beji, kota Depok, kami – para anak muda perantau minang – suka sekali mendendangkan beragam lagu daerah ini. Sesekali tertawa atau sahut menyahut lirik, jauh di lubuk hati menyimpan rindu yang teramat sangat. Pada orang-orangnya, alamnya, jalan setapak yang biasa dilalaui, dan tentu saja … makanannya!

Apalagi kalau sudah mendekati momen pulang kampung. Sambil mengemasi baju ke dalam tas, saya memutar lagu ‘kebesaran’ ini. Benar-benar rindu yang ditahan pada pelupuk mata. Beruntung banyak perkumpulan mahasiswa daerah, salah satunya kami yang berasal dari Sumatera Barat.

Setiap pulang ke Bukittinggi, entah itu liburan semester atau mudik lebaran, ada satu kegiatan yang hampir tidak pernah saya lewatkan. Mengunjungi Palanta Soto H. Minah yang terletak di Pasar Wisata, Benteng, Pasa Ateh. Buat saya, tempat ini bukan sekedar palapeh salero kampuang (pelepas selera kampung) saja. Tidak pula karena santapan legendarisnya, melainkan ada banyak memori yang ingin saya nostalgiakan di sini.

Seperti biasa, saya selalu menggunakan angkutan umum dari rumah lalu berhenti di belakang Ramayana Bukittinggi. Berjalan kaki menelusuri pelataran Jam Gadang, turun ke trotoar Kampung Cina dan kemudian mendaki janjang Minang menuju Palanta Soto H. Minah.

Tiap kunjungan ke sini saya selalu memesan hidangan yang sama. Sepiring soto khas minang dan segelas es teler, karena air putih disediakan gratis oleh pemilik palanta di dalam teko warna warni di atas meja.

“Da soto ciek jo es teler!” (Da soto dan es telernya satu!) Saya menyebutkan pesanan ketika baru saja masuk ke dalam palanta ini. Bauk kaldu khas kuah soto langsung menyergap indera penciuman.

Masih ijelas di ingatan saya, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (sekitar tahun 2004), kunjungan ke Pasa Ateh adalah hal yang sangat dinanti-nantikan. Waktu itu keluarga kami hanya memiliki satu sepeda motor keluaran tahun ‘90an. Kalau hendak jalan-jalan, saya dan adik-adik dibawa bergantian karena tidak muat di motor. Seringnya saya yang paling jarang ikut karena anak paling besar.

Jalan-jalan kami ya sekedar putar-putar area Pasa Ateh, duduk-duduk sambil makan pisang rebuas atau kacang ramang di pelataran Jam Gadang, dan sebelum pulang, biasanya kami sekeluarga selalu mampir ke sini.

Ibu dengan pesanan mi tahunya, saya dan bapak dengan soto daging khas minang. Dulu juga bapak selalu memesan ampiang dadiah sebagai teman makan soto. Yoghurt khas minang yang terbuat dari fermentasi susu kerbau disimpan di dalam wadah bambu berbentuk tabung dan ditutup dengan daun pisang. Sedangkan ampiang adalah beras ketan yang ditumpuk ketika selesai direbus. Ampiang dadiah ini disajikan dengan siraman gula merah.

Saya berdebar-debar menunggu ketika uda penjualnya meletakkan semangkuk soto dengan asap yang masih mengepul. Bagaimana rebusan soun, irisan tipis daging goreng, sebutir perkedel kentang yang dihancurkan, taburan bawang goreng dan seledri, yang kemudian disiram dengan kual kaldu panas berwarna kecokelatan menjadi hangat yang tidak terlupakan ketika di tanah rantau.

Belum lagi sesendok cabe giling yang saya tambahkan di atasnya. Biasanya soto ini disantap dengan nasi yang dihidangkan secara terpisah di dalam piring.

Sepanjang santap siang ini, saya tidak cuma menikmati kelezatan soto yang sudah melegenda semenjak tahun 1968 ini. Tapi juga pada kehangatan masa kecil saya. Ibu yang kerepotan menyuapi adik-adik, bapak yang buru-buru makan agar bisa gentian dengan ibu, dan saya, si sulung yang selalu makan dengan tenang dan tidak boleh usil.

Di samping palanta soto ini adalah gang menuju Pasa Putiah atau pasar barang bekas. Dulu kami sekeluarga juga suka berburu jaket dan baju rumah di sini. Masih terbayang ibu yang sibuk memilih dan menawar sedangkan saya kebagian mengurusi adik-adik yang lari kian-kemari.

Lagi-lagi dalam soto yang isinya sudah nyaris habis ini saya terbayang masa kecil. Pada keributan kami kakak beradik, pada ibu dan bapak yang selalu makan terburu-buru, dan pada motor butut yang sekarang kalau dihidupkan bunyinya tak lebih seperti orang batuk. Hangat sekali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here