Pulau Dewata memang menyisakan terlalu banyak cerita. Mulai dari pantai, sawah, gunung, budaya, masyarakat, hingga makanannya. Sebagai wanita kelahiran Denpasar, Bali, tetap saja saya selalu kagum dengan apa yang ada di pulau ini.

Contohnya adalah Ayam Betutu yang sudah menjadi legenda dan daerah yang fenomenal dengan itu adalah Gilimanuk. Namun ternyata bukan hanya ayam saja yang iconic di wilayah seribu pura yang bernama Bali.

Sebagai pulau yang memiliki banyak pantai berhasil membuat Bali juga memiliki sajian khas berupa olahan ikan laut. Maksudnya gimana nih? Ikan bakar kah? Kan ikan bakar ada dimana-mana?

Memang ikan bakar dimana-mana ada. Jadi sudah pasti tebakan ini salah. Olahan ikan laut tersebut adalah Sate lilit, sup ikan, hingga sate ikan manis yang benar-benar bikin susah move on.

Bahkan saya pun tiap kali harus kembali ke kota domisili saya saat ini tetap terngiang-ngiang dengan aroma dan lezatnya sajin tersebut. Kok bisa? Jadi kita ini sebenarnya sudah sangat terbiasa menyantap daging ayam hingga lidah ini sudah sangat hafal rasanya segala jenis olahan daging ayam. Iya atau iya?

Tapi kenapa ujungnya kita makan ayam lagi dan ayam lagi? Tentunya kita juga banyak menyimak informasi bahwa ikan segar khususnya ikan laut mengandung lebih banyak gizi daripada daging ayam, apalagi ayam boiler.

Emak-emak pasti tau bahwa harga ikan segar per kilo lebih mahal dari daging ayam. Lagipula mencari ikan segar juga tidak mudah. Belum lagi cara mengolahnya yang tidak sepraktis ayam. Ikan dengan banyaknya gizi di dalamnya akan amat sangat disayangkan jika harus disajikan dengan menu goreng atau bakar saja.

Apalagi minyak gorengnya sudah berkali-kali bekas pakai atau menu bakar yang dipesan harus digoreng dulu. Kandungan gizi ikan otomatis jadi sangat berkurang.

Nah permasalahan itulah yang kemudian bisa kita singkirkan dengan melihat menu khas Bali yang satu ini. Di Bali, kita dapat menikmati olahan ikan laut segar dengan cara yang lebih sehat. Salah satunya adalah sate lilit. Dalam satu porsi kita akan mendapatkan sup ikan, plecing kangkung, dan juga sate ikan pedas manis.

Banyak resto di pinggir pantai atau justru lesehan kecil di sekitar pantai menjual menu satu paket ini. Tapi jangan salah untuk mencarinya di area padat turis seperti Jimbaran ya! Selain harganya yang fantastis, cukup sedikit pula yang menjual menu ini karena selera mancanegara memang tidak selalu sama dengan lidah lokal.

Jadi dimana menemukan paket sate lilit yang tepat? Ketika saya berjalan-jalan di sekitaran Kabupaten Klungkung, tepatnya di jalur penghubung Denpasar – Klungkung, saya menemukan banyak warung makan yang menjual ikan laut.

Banyaknya pantai berpasir hitam membuat daya tarik pengunjung lebih fokus pada berkuliner daripada bermain air di pantai.

Banyak pula orang-orang yang menjajakan ikan laut segar di pinggir jalan seperti tongkol dan tuna. Tidak sedikit kendaraan yang berhenti untuk membelinya. Dari sekian banyak warung makan, ada satu lesehan yang fenomenal banget karena selalu membuat pengunjungnya antri. Namanya adalah Lesehan Mertasari.

Lesehan Merta Sari – Klungkung – Bali (Dok.Pribadi)

Awalnya saya tidak melihat penampakan lesehan ini di pinggir jalan utama tapi atas rekomendasi teman-teman ayah saya, kita pun mencari keberadaan lesehan tersebut.

Selama pandemi memang Lesehan Mertasari tidak seramai dulu namun itu tidak membuatnya gulung tikar. Pecinta sate lilit tetap datang kemari di sela-sela istirahat mereka. Karena saya tiba disana setelah asik bermain di pantai, kami sekeluarga tiba setelah jam makan siang. Ya, kami makan siang dengan sangat terlambat tapi hasilnya adalah kami tidak perlu mengantri tempat untuk makan.

Sedikit informasi bagi kalian, sate lilit adalah ikan yang dicacah dan diberi campuran bumbu kemudian diletakkan pada tusuk sate dari bambu atau pada batang sereh.

Kalau di lesehan ini tusuknya pakai bambu dan bentuknya berbeda dengan tusuk sate pada umumnya. Bagian bawah dan atasnya berbentuk datar. Tidak ada bagian yang runcing. Inilah khasnya.

Lanjut nih, dipanggang di atas bara api layaknya sate pada umumnya, nampak beberapa bapak-bapak berpakaian adat akan memanggang sate.

Setelah memesan beberapa porsi, sajian pun datang. Kita tidak bisa meminta extra pedas atau tidak ya, karena sudah dimasak sedemikian rupa dengan bumbu yang ada. Jadi ibarat kita makan fast food, tidak bisa minta tanpa micin dan lain-lain. Para pelayan sudah tinggal ambil saja apa-apa yang sudah siap di dapur mereka.

Satu porsi berisi satu nasi putih, satu plecing kangkung, satu piring kacang goreng, tiga tusuk sate lilit, tiga tusuk sate ikan pedas manis, dan satu mangkuk kecil sup ikan.  

Plecing kangkung lengkap dengan kacang goreng menjadi serat yang akan kita nikmati bersama dengan irisan bawang, cabai, dan minyak yang kita kenal dengan sambal matah.

Sambal matah di lesehan ini sedikit berbeda dengan yang kita ketahui di media sosial ya. Seharusnya ada cacahan sereh dan daun jeruknya tapi di sini tidak ada. Walaupun begitu tetap pedes menggelora kok.

Sajian sayuran dan sambal khas Lesehan Mertasari (Dok. Pribadi)

Susulan kemudian menu utama olahan ikan yaitu sate lilit, sate ikan manis pedas, dan sup ikan. Rasa sup ikannya keren banget karena tidak amis. Sajiannya juga full daging. Kita tidak perlu repot memilih dan memilah tulang ikan.

Saya rasa untuk ikan yang mereka gunakan adalah ikan tuna. Tapi karena bumbunya benar-benar komplit, seperti kata orang Bali adalah bumbu genep, maka amisnya tuna tidak terasa sama sekali.   

Dan satu lagi yang bikin kita yakin itu olahan sehat adalah tidak ada santan di kuahnya. Jadi benar-benar sup ikan yang penuh rempah.

Untuk menu lainnya seperti plecing kangkung rasanya mirip dengan plecing kangkung khas Lombok. Pedas menggelora dan untungnya ada kacang goreng yang seharusnya dimakan bersama plecing jadi saya makan terpisah demi mengurangi rasa pedas.

Belum lagi sate ikan manis pedasnya. Enak dan nagih banget rasanya. Saya sendiri akan menjadikan olahan ini sebagai rekomendasi pertama untuk dimakan.

Barulah saya menikmati sate lilit yang benar-benar ikan banget. Jika biasanya saya membeli sate llit di pinggiran jalan kota Denpasar, rasa tepung dan kelapanya justru mendominasi rasa ikan. Jadi benar-benar saya merasa lebih puas menikmati sate lilit disini daripada di kota Denpasar.

Setelah semua menu tadi, jangan terkejut karena satu porsi lengkap dengan sepiring nasi hanya perlu membayar 35 ribu rupiah saja. Kalau tidak habis bungkus saja deh. Rugi banget kalo makanan sehat disia-sia, ya kan?

Letak lesehan Mertasari memang tidak di pinggir jalan utama. Tapi justru dari sini kita dapat melihat keasrian sisi lain Bali. Ketika kita hanya tau mengenai Kuta, Sanur, dan Nusa Dua dengan segala hingar bingar ataupun sensasi bak di luar negeri, justru dari tempat ini kita melihat Bali yang sebenarnya.

Tempat makan ini juga jauh dari kebisingan. Sangat cocok untuk melepas lapar sambil bersantai sejenak dari rutinitas. Apalagi tempat duduk dan hiasan dindingnya benar-benar khas Bali yang disajikan dengan tampilan sederhana. Saya dan keluarga menikmati sekali momen-momen ini yang mana setelah puas bermain di pantai lalu puas mengenyangkan perut sambil leyeh-leyeh.

Nuansa makan nyaman di Lesehan Mertasari (Dok. Pribadi)

Tidak perlu ke resto mahal, di sini saja kita sudah dapat menikmati apa yang patut kita nikmati dari Bali dan yakin membuat kita susah move on. Sampai jumpa lagi Bali!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here